U2FsdGVkX19yqg4zgujTU1FZc57GerP0WSIm+52ZEaSeqA8P7e4E+jXFAuaEXV5aRefvlQlygbeFp/0Gp5iVKg==
Peninggalan Kerajaan Kediri

Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri – Halo teman-teman Pintarkan! Dahulu kala, banyak sekali kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di Indonesia. Beberapa kerajaan, sangat berpengaruh dalam perkembangan budaya dan agama di Indonesia saat ini. Maka dari itu, penting bagi kita untuk menelusuri sejarah-sejarah kerajaan yang pernah berdiri di Indonesia untuk dipelajari.

Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas sejarah mengenai salah satu kerajaan besar yang pernah berkembang di Indonesia, yaitu sejarah kerajaan Kediri. Kami akan memaparkan tentang masa berdirinya kerajaan Kediri, corak agama yang berkembang, kitab peninggalan kerajaan kediri, hingga raja raja kerajaan kediri yang pernah menjabat. Berikut merupakan pemaparan sejarah kerajaan Kediri, selamat membaca!

Menurut peninggalan-peninggalan arkeologi yang ditemukan, dapat disimpulkan bahwa masyarakat Kediri memiliki corak agama Hindu. Dari beberapa candi yang ditemukan tidak terdapat unsur-unsur Budhisme, namun lebih menunjukan latar belakang ajaran Siwa. Beberapa hasil temuan prasasti dan arca-arca memperkuat bahwa agama Hindu merupakan agama utama yang berkembang pada masa kerajaan Kediri. Baiklah tanpa basa basi lagi inilah dia kitab peninggalan kerajaan kediri.


BACA JUGA: Sejarah Candi Prambanan: Letak dan juga Fungsinya

Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri 

Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri
Gambar Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri

1. Kitab Kresnayana

Kitab peninggalan kerajaan kediri yang pertama yaitu kitab Kresnayana yang dikarang oleh Mpu Triguna. Kitab ini menceritakan tentang riwayat hidup seorang anak yang mempunyai kekuatan yang luar biasa dengan hati yang baik dan penolong bernama Kresna. Dalam kitab ini, kisah Kresna diceritakan secara lengkap mulai dari bagaimana dia sangat disukai oleh orang-orang sampai pernikahannya dengan Dewi Rukmin.

2. Kitab Kakawin Bharatayudha

Kitab Kakawin Bharatayudha kitab peninggalan kerajaan kediri yang dikarang oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Kitab ini diperkirakan dibuat pada tahun 1079 Saka atau 1157 Masehi tepatnya pada tanggal 6 November 1157, di masa pemerintahan Prabu Jayabaya. Kitab ini bercerita tentang perjuangan Kerajaan Jenggala, kisah perjuangan Raja Jayabaya yang berhasil memenangkan kerajaan Panjalu yang sekarang dikenal menjadikisah peperangan antara Kurawa dan Pandawa dalam Mahabarata.

3. Kitab Gatotkacasraya

Kitab peninggalan kerajaan kediri yang selanjutnya adalah kitab gatotkacasraya. Kitab ini dikarang oleh Mpu Panuluh pada masa Rajabaya, menceritakan tentang kisah kepahlawanan ksatria Gatotkaca yang berhasil mempersatukan putra Arjuan, Abimanyu, dengan Siti Sundhari.

4. Kitab Sumarasantaka

Kitab ini bercerita tentang seorang bidadari dari khayangan yang berbuat kesalahan lalu dikutuk menjadi manusia. Bidadari ini bernama Harini, kutukan tersebut membuatnya tinggal di bumi selama beberapa saat. Kitab peninggalan kerajaan kediri ini ditulis oleh Mpu Monaguna pada masa raja Prabu Warsajaya (1104 – 1135).

5. Kitab Hariwangsa

Kitab peninggalan kerajaan kediri yang selanjutnya adalah Kitab Hariwangsa. Kitab atau kakawin Hariwangsa ditulis oleh Mpu Panuluh dengan bahasa Jawa Kuno, pada masa kepemimpinan Prabu Jayabaya sekitar tahun 1135 – 1157 Masehi. Kitab ini secara harfiah berarti silsilah atau garis keturunan Wisnu atau sang hari. Namun, sebagian orang menilai kitab ini kurang cocok karena hanya menceritakan sebuah bagian kecil saja.

6. Kitab Smardhana

Kitab yang ditulis dengan bahasa Jawa Kuno berbentuk kakawin ini dikarang oleh Mpu Dharmadja. Kitab peninggalan kerajaan kediri ini berisi tentang sejarah sepasang kekasih, Dewa kama dan Dewi Ratih, yang menghilang tiba-tiba secara ghaib akibat terkena api yang keluar dari mata keetiga Dewa Syiwa.

Nah itulah dia kitab peninggalan kerajaan kediri yang bisa kami sampaikan kepada kalian semua pembaca setia pintarkan. Selanjutnya kami akan lanjut membahas mengenai raja raja kerajaan kediri.


Raja Raja Kerajaan Kediri

Raja Kerajaan Kediri
Gambar Raja Kerajaan Kediri

1. Sri Samarawijaya

Sri Samarawijaya atau Sri Samarawijaya Dharmasuparnawahana Teguh Uttunggadewa merupakan raja kerajaan kediri yang pertama, ia memerintah sejak tahun 1042. Masa pemerintahannya dikenal sebagai masa kegelapan karena tidak terdapat bukti prasasti yang ditinggalkan.

2. Sri Jayawarsa

Raja kerajaan kediri yang selanjutnya adalah Sri Jayawarsa. Menurut Prasasti Sirah Keting (1104 M), pada masa pemerintahan Raja Sri Jayawarsa pernah memberikan suatu hadiah kepada rakyat desa yang telah sangat berjasa kepadanya sebagai tanda penghargaan. Dari prasasti ini dapat diketahui bahwa Raja Jayawarsa memiliki kepedulian dan perhatian yang luar biasa dalam meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

3. Sri Bameswara

Lalu, raja kerajaan kediri yang selanjutnya adalah Sri Bameswara. Banyak prasasti yang ditinggal kan oleh Raja Bameswara seperti yang ditemukan di daerah Kertosono dan Tulung Agung. Dari prasasti-prasasti yang ditemukan tersebut umumnya memuat masalah-masalah keagamaan, selain itu ada juga yang menjelaskan bahwa ia menyebut diri sendiri sebagai Sang Juru Panjalu.

4. Prabu Jayabaya

Pada masa kepemimpinan raja kerajaan kediri yang bernama Prabu Jayabaya (1130 – 1157 M), kerajaan Kediri mengalami masa keemasan. Prabu Jayabaya memiliki strategi kepemimpinan yang sangat baik dalam memakmurkan rakyatnya. Kerajaan yang memiliki beribu kota yang terletak di bawah kaki gunung Kelud, Dahono Puro, memiliki tanah yang amat subur sehingga hasil pertanian dan perkebunan berlimpah ruah.

Selain hasil bumi, keadaan masyarakat-nya pun sangat tercukupi, salah satunya berkat pengelolaan aliran sungai Brantas yang berada di tegah kota dan dihidupi aneka ragam ikan. Roda perekonomian berjalan lancar berkat pemanfaatan hasil bumi, sehingga kerajaan kediri memiliki julukan negara yang Gemah Ripah Loh Jinawa Tata Tentrem Karta Rasarja.

5. Sri Sarwaswera

Sejarah mengenai raja kerajaan kediri yang bernama Sri Sarwaswera didasarkan pada Prasasti Padelegan II (1159) dan Prasasti Kahyunan (1161). Menurut prasasti yang ditemukan, Sri Sarwaswera dikisahkan sebagai raja yang taat beragama dan berbudaya, ia memegang prinsip Tat Wam Asi dengan teguh, atau dalam bahasa Indonesia berarti Dikaulah itu, dikaulah (semua) itu, semua makhluk adalah engkau. Ia berpendapat bahwa tujuan akhir manusia yaitu Moksa, yang berarti pemanunggalan Jiwatma dengan Paramatma. Jalan yang benar adalah sesuatu yang menuju arah kesatuan, sehingga segala sesuatu yang menghalangi kesatuan adalah tidak benar.

6. Sri Aryeswara

Raja kerajaan kediri yang selanjutnya bernama Sri Maharaja Rake Hino Sri Aryeswara Madhusudanawatara Arijamuka atau Sri Aryeswara memerintah Kerajaan Kediri sekitar tahun 1171, berdasarkan peninggalan sejarahnya yaitu Prasasti Angin, 23 Maret 1171. Dalam prasastinya tidak dikisahkan kapan Sri Aryeswara naik tahta dan kapan pula pemerintahannya berakhir.

7. Sri Gandra

Menurut Prasasti Jaring, Raja Sri Gandra adalah raja kerajaan kediri yang menjabat pada 1181 Masehi. Selain itu, terdapat sistem penunjukan tinggi rendahnya pangkat seseorang dalam istana berdasarkan nama-nama hewan seperti Gajah, Kebo, dan Tikus.

8. Sri Kameswara

Sri Kameswara menjadi raja kerajaan kediri sekitar tahun 1180 hingga 1190-an Masehi, dengan gelarnya Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikramawatara Aniwariwirya Anindhita Digjaya Uttunggadewa. Menurut Prasasti Semanding (17 Juni 1182) dan Prasasti Ceker (11 September 1185), seni sastra mengalami perkembangan yang pesat. Mulai dari seorang pujangga bernama Mpu Dharmaja yang mengarang Kitab Smaradhana hingga munculnya kisah-kisah Panji yang terkenal seperti kisah Panji Semirang.

9. Sri Maharaja Kertajaya

Menurut Prasasti Galunggung (1194), Prasasti Palah (1194), Prasasti Kamulan (1197), Prasasti Wates Kulon (1205), Nagarakretagama (1365) dan Pararaton, Sri Maharaja Kertajaya merupakan raja kerajaan kediri yang terakhir. Ia berkuasa mulai dari tahun 1194 hingga 1222, sampai akhirnya ditaklukkan oleh Ken Arok atau Singhasari yang menandai akhir dari kekuasaan Kerajaan Kediri.

Raja Kertajaya memiliki gelar abhiseka yaitu Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa. Pada masa pemerintahannya, ia berusaha mengurangi hak-hak kaum Brahmana sehingga kestabilan kerajaan menurun, karena para Brahmana yang lari dan meminta bantuan ke Tumapel yang saat itu dipimpin oleh Ken Arok.


Letak Kerajaan Kediri

Letak Kerajaan Kediri
Gambar Letak Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri (Kadiri atau Panjalu) merupakan salah satu kerajaan besar di Indonesia yang terletak di Jawa timur, tepatnya di tepi sungai Brantas. Kerajaan yang berdiri dari tahun 1042 hingga 1222 ini berpusat di kota Daha, yang saat ini terletak di Kota Kediri. Menurut prasasti Pamwatan, kota Daha berasal dari kata Dahanapura yang memiliki arti Kota Api. Kota ini sudah ada sebelum Kerajaan Kediri berdiri.

Itulah dia raja raja kerajaan kediri yang dapat kami sampaikan kepada kalian semua. Semoga bisa membuka wawasan kalian mengenai Sejarah Indonesia.

Penutup

Semoga artikel kami kali ini mengenai kitab peninggalan kerajaan kediri, letak kerajaan kediri dan juga raja raja kerajaan kediri dapat bermanfaat dan menjadi referensi untuk karya teman-teman Pintarkan kedepannya. Jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada teman dan keluarga kalian agar manfaatnya berdampak lebih luas. Jangan patah semangat dalam mengejar ilmu, karna Pintarkan akan selalu mendukung dan memfasilitasi kalian dalam belajar. Sampai jumpa di postingan kami yang lainnya dan jangan lupa budayakanlah literasi!
Loading...